Rabu, 03 November 2010

PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN SOSIAL REMAJA DALAM KAITANNYA DENGAN KEGIATAN BELAJAR

A.  PERKEMBANGAN KOGNITIF REMAJA
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa.

Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).


Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Kemampuan berpikir seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.


Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001). Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri.  Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka. 
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001).

B.   PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.




Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).
Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

Ciri perkembangan sosial remaja :
-      Mengenal norma pergaulan dengan kelompok berbagai umur
-      Pergaulan dengan lawan jenis (penting tapi cukup sulit)
-      Menonjolkan fungsi intelektual & emosional (kecerdasan IQ & EQ menjadi penting)
-      Menentukan identitas dan konsep diri
-      Mencari & memilih kawan akrab
-      Penyesuaian diri
-      Persaingan untuk menonjolkan diri









Faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial :
-      Keluarga à Norma yang diberlakukan dalam keluarga
-      Kematangan fisik dan psikis à Berbahasa, IQ, dan EQ
-      Status Sosial-Ekonomi à kecendrungan anak untuk menjaga status sosialnya (Bahaya : terjadi diskriminasi kelompok tertentu / Terisolasi)
-      Rounded Rectangle: Intelektual tinggi à Bahasa baik à Pengendalian emosi seimbangPendidikan à dikenalkan etika pergaulan dengan norma masyarakat dan bangsa (lebih luas)
-      Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi -->




C.   PERKEMBANGAN KOGNITIF REMAJA DALAM KAITANNYA DENGAN KEGIATAN BELAJAR

Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal.
Kaitan perkembangan kognitif remaja yang berada pada tahap operasi formal terhadap kegiatan belajar adalah sbb:
1.     Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Kemampuan berpikir seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi.
CONTOHNYA: tidak perlu alat peraga




2.    Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks.
CONTOHNYA: dalam menerima pelajaran, tidak menerima begitu saja, tapi dapat dikaitkan dengan logika berpikirnya
3.    Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. 
CONTOHNYA: tidak terpaku pada satu jawaban dan dapat menjelaskan jawaban yang diberikannya
4.    Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan.
CONTOHNYA: aritmetika untuk kegiatan sehari-hari
5.    Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang.
CONTOHNYA: belajar untuk menggapai cita-citanya
6.    Seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
CONTOHNYA: sistem kebut semalam tidak baik untuk dirinya karena materi hanya dihapal tidak dipahami secara keseluruhan
7.    Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan.
CONTOHNYA: berani tidak melihat kunci jawaban yang diperolehnya dari teman yang belum tentu benar. Karena ia tidak mau berspekulasi pada kunci jawaban yang belum tentu benar.




8.    Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan.
CONTOHNYA: nilainya rendah padahal dirasa benar, kemudian ia mencari sumber yang berbeda ternyata hasilnya benar. Kemampuan berpikir logisnya adalah dengan menanyakan ke gurunya dan beragumentasi mengenai jawaban yang diberikannya.
9.    Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri.
CONTOHNYA: informasi yang diterima tidak ditelan mentah-mentah, tapi ditanyakan ke sumber yang dipercaya sehingga dia memiliki persepsi sendiri berdasarkan informasi yang terpercaya
 
10. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan.
CONTOHNYA: dulu tidak naik kelas karena malas belajar, berdasarkan pengalaman tersebut ia tidak lagi malas belajar agar tidak naik kelas





11.  Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka. 
CONTOHNYA: remaja yang pintar dapat menahan diri untuk bersabar terhadap kemampuan temannya yang lebih lamban darinya, dengan tidak marah, sombong, membantunya memahami materi lebih baik, dll.

D.  PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA DALAM KAITANNYA DENGAN KEGIATAN BELAJAR

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
Kaitannya dengan kegiatan belajar adalah mau mendapatkan pendapat orang lain dalam diskusi di kelas, lebih mudah belajar dengan teman (belajar kelompok), dll.



















KESIMPULAN

v  Kemampuan sosialisasi perlu dilatih, karena pemahaman dan wawasan remaja akan norma yang berlaku masih sedikit sehingga kemungkinan untuk menimbulkan konflik karena perbedaan serta sikap over acting (berlebihan) akan lebih besar.

v  Walau remaja pada umumnya memiliki rentang perhatian yang lama, namun besar kemungkinan remaja juga akan melamun, jadi sebaiknya sajikan informasi dengan menguji pengetahuannya, menantang imajinasi dan rasa ingin tahunya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar