Selasa, 02 November 2010

MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM STANDAR PROSES PENDIDIKAN


            Dalam kegiatan pembelajaran guru memegang perananan yang sangat penting. Namun baik sadar maupun tidak guru seringkali melakukan kekeliruan-kekeliruan yang menyebabkan pembelajaran menjadi tidak menarik dan efektif. Kekeliruan itu antara lain adalah:
1.      Di awal pelajaran guru tidak berusaha untuk mengetahui kemampuan awal siswa.
2.      Guru tidak pernah mengajak siswa berpikir.
3.      Guru tidak berusaha memperoleh umpan balik.
4.      Guru mennganggap bahwa ia lah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran.
      Agar pembelajaran dapat beralangsung dengan baik maka seebagai guru hendaklah menhindari kekeliruan-kekeliruan itu.

A.    Konsep Dasar Mengajar
1.      Mengajar sebagai prosess penyampaian materi pelajaran
      Dalam konteks mengajar sebagai proses penyampaian materi pelajaran maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik, yaitu :
a.       Proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher centered)
b.      Siswa sebagai objek belajar.
c.       Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu.
d.      Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran.
2.      Mengajar sebagai proses mengatur lingkungan.
      Dalam konteks mengajar sebagai proses mengatur lingkungan maka mengajar mempunyai beberapa karakteristik, yaitu:
a.       Mengajar berpusat pada siswa
b.      Siswa sebagai subjek belajar
c.       Proses pengajaran terjadi dimana saja
d.      Pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan

            Dengan memperhatikan karakteristik dari mengajar di atas, maka saat ini mengajar sebagi proses penanaman pengetahuan dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi yang ada. Oleh sebab itu, pandangan bahwa mengajar hanya sekedar proses penyampaian pengetahuan saja harus di ubah menjadi pradigma baru yaitu mengajar adalah proses mengatur lingkungan.
Ada beberapa alasan mengapa hal ini perlu dilakukan, yaitu:
a.       Siswa adalah organisme yang berkembang. Agar mereka dapat melakssanakan tugas-tugas perkembangannya, dibutuhkan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Jadi bila dikaitkan dengan peran guru, maka guru tidak lagi memposisikan dirinya sebagai sumber belajar tetapi sebagai pengelola pembelajaran denagn memanfaatkan siswa iitu sendiri.
b.      Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat menyebabkan saat ini belajar tidak lagi sekedar menhafalkan informasi, mengahfal rumus-rumus, tetapi bagaimana menggubakan informasi dan pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan berpikir.
c.       Proses pendidikan bukan lagi memberikan stimulus, akan tetapi usaha mengembangkan potensi yang dimiliki.
            Dengan memperhatikan alaasan di atas maka mengajar sebagai proses mengatur lingkungan dianggap paling sesuai bagi siswa agar siswa dapat mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimilkinya.

B.     Makna Mengajar dalam Standar Proses Pendidikan       
            Mengajar dalam konteks standar proses pendidiikan tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi juga  dimaknai sebagai proses mengatur lingkungan supaya siswa belajar. Makna lain mengajar yang demikian sering diistilahkan dengan pembelajaran.
            Pembelajaran dapat diartikan sebagai usaha siswa untuk mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat dari perlakuan guru. Disini jelas bahwa proses pembelajaran siswa tidak mugkin terjadi tanpa perlakuan guru. Yang membedakannya hanya terletak pada peranannya saja.
            Makna pembelajaran dalam konteks standar proses pendidkan ditunjukan oleh beberapa ciri sebagai berikut:
1.      Pembelajaran adalah proses berpikir.
2.      Proses pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak.
3.      Pembelajaran  berlangsung sepanjang hayat.

C.     Teori-teori Belajar
            Belajar dianggap  sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Banyak teori yang membahas tentang perubahan tingkah laku. Namun demikian, setiap teori itu berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia, yaitu hakikat manusia menurut John Locke an hakikat manusia menurut Leibnitz.
            Menurut John Locke, manusia aalah organisme yang pasif. Dengan teori tabularasanya, Locke menganggap bahwa mabusia itu seperti kertas putih, hendak ditulisi apa kertas itu sangat tergantung pada orang yang menulisinya. Dari pandangan ini, memunculkan aliran belajar behavioristik-elementeristik.
            Berbeda dengan Locke, Leibnitz menganggap bahwa manusia adalah organisme yang aktif. Pada  hakikatnya, manusia bebas untuk bebuat, bebas untuk membuat suatu pilihan dalam setiap  situasi. Titik kebebasan ini adalah kesadarannya sendiri. Menurut aliran ini, perubahan tingkah laku hanyalah ekspresi yang dapat diamati sebagai akibat dari eksistensi internal yang pada hakikatnya bersifat pribadi. Pandangan ini memunculkan aliran belajar kognitif-holistik. 

Perbedaan aliran behavioristik dan kognitif dapat dilihat pada tabel berikut.

No
Teori Belajar Behavioristik
Teori Belajar Kognitif
1
Mementingkan pengaruh lingkungan
Mementingkan apa yang ada dalam diri
2
Mementingkan bagian-bagian
Mementingkan keseluruhan
3
Mengutamakan peranan reaksi
Mengutamakan fungsi kognitif
4
Hasil belajar terbentuk secara mekanis.
Terjadi keseimbangan dalam diri
5
Dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
Tergantung pada kondisi saat ini
6
Mementingkan pembentukan kebiasaan
Mementingkan terbentuknya struktur konitif
7
Memecahkan masalah dilakukan dengan cara trial and error
Memecahkan masalah didasarkan kepada insight
8
Teori-teori belajar yang termasuk :
·         Koneksionisme (Thorndike)
·         Classical conditioning (Pavlop)
·         Operant conditioning (Skinner)
·         Systematic behavior (Hull)
·         Contiguous conditioning (Guthrie)
Teoi-teori belajar yang termasuk :
·         Teori Gestalt (Kofka, Kohler, Wertheimer)
·         Teori Medan (Lewin)
·         Teori Organismik (Wheeler)
·         Teori Humanistik (Maslow dan Rogers)
·         Teori Konstruktivistik (Jean Piaget)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar