Rabu, 03 November 2010

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN EMOSI, NILAI, MORAL DAN SIKAP REMAJA DIHUBUNGKN DENGAN PROSES BELAJAR



  1. PERKEMBANGAN EMOSI PESERTA DIDIK/REMAJA
  1. Pengertian Emosi
Emosi adalah setiap kegiatan aatau pergolakan pikiran,perasaan,nafsu,setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Emosi juga menujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas,suatu keadaan biologis dan psikologis,dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Adapun perasaan (feelings) adalah pengalaman disadari yang diaktifkan baik oleh perangsang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaaan jasmaniah.
           
  1. Hubungan antara Emosi dan Tingkah laku
Ada empat teori yang menjelaskan hubungan antara emosi dengan tingkah laku,yaitu:
a.       Teori Sentral
Menurut teori ini,gejala kejasmanian termasuk tingkah laku merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu. Teori ini dikemukakan oleh Walter B Canon(Mafhudh Salahudin,1986:264)
b.      Teori Peripheral
Menurut teori ini,bahwa gejala-gejala kejasmanian atau tingkah laku seseorang merupakan akibat dari emosi,yang dialami oleh individu itu,sebagai akibat dari gejala-gejala kejasmanian. Teori ini dikemukakan oleh James dan Lange(CP Chaplin.1989:264)
c.       Teori Kpribadian
Menurut teori ini,emosi merupakan suatu aktifitas pribadi,dimana pribadi ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Maka emosi meliputi pula perubahan-perubahan jasmani.
d.      Teori kedaruratan Emosi (Emergeney Theoryof The Emotion)
Reori ini mengemukakan bahwa reaksi yang mendalam(visceral) dari kecepatan jantung yang semakin bertambah akan menambah cepatnya aliran darah menuju ke urat-urat, hambatan-hambatan pada pencernaan,pengembangan atau pemuaian pada kantung-kantung didalam paru-paru dan proses lainnya yang mencirikan secara khas keadaan emosional seseorang,kemudian menyiapkan organisme untuk melarikan diri atau untuk berkelahi,sesuai dengan penilaian terhadap situasi yang ada oleh kulit otak. Teori ini dikemukakan oleh Cannon (CP Ehaplin,1989:162)

  1. Karekteristik Perkembangan Emosi Remaja
Karakteristik perkembangan remaja sejalan dengan perkembangan masa remaja itu sendiri,yaitu sebagai berikut:
a.       Perubahan fisik tahap awal pada periode pra-remaja disertai sikap kepekaan terhadap rangsang-rangsang dari luar menyebabkan responnya biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng,tetapi juga cepat merasa senang bahkan meledak-ledak.
b.      Perubahan fisik yang semakin tampak jelas pada periode remaja awal menyebabkan mereka cendrung menyendiri sehingga tidak jarang pula merasa terasing,kurang perhatian dari orang lain,atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau memperdulikannya.
c.       Periode remaja tengah sudah semakin menyadari pentingnya nilai-nilai yang dapat dipegang teguh sehingga jika melihat fenomena yang terjadi di masyarakat yang menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui menyebabkan remaja sering kali secara emosional ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar,baik dan pantas untuk dikembangkan dikalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orang tua atau orang dewasa disekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya.
d.      Periode remaja akhir mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai menunjukkan pemikiran,sikap,perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu,orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga semakin lebih bagus dan lancar karena mereka sudah semakin bebas penus serta emosinya pun mulai stabil.
            Perasaan yang sering muncul :
a. Cinta / kasih sayang

Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Tampaknya tidak ada manusia, termasuk remaja, yang hidup bahagiadan sehat tanpa mendapatkan cinta dari orang lain. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal dan mempunyai sikap permusuhan besar kemungkinan disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari.

b. Gembira

Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai sahabat, atau bila jatuh cinta dan cintanya itu mendapat sambutan (diterima)oleh yang cintai.
kemarahan dan permusuhan

c. Rasa marah
Rasa marah merupakan gejala yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjol dalam perkembangan kepribadian melalui rasa marahnya seseorang mempertajam tuntutannya sendiri dan pemilikan minat-minatnya sendiri. Sikap-sikap permusuhan mungkin berbentuk dendam, kesedihan, prasangka, atau kecenderungan untuk merasa tersiksa.

d. Ketakutan dan Kecemasan

Ketakutan muncul karena adanya kecemasan-kecemasan dan rasa tidak berani yang bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri. Biasanya para remaja merasa takut hanya pada kejadian-kejadian bila mereka merasa bahaya. Satu-satunya cara untuk menghindarkan diri dari rasa takut adalah menyerah pada rasa takut, seperti terjadi bila seorang begitu takut sehingga ia tidak berani mencapai apa yang Semarang atau masa depan yang tidak menentu.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja
Ada lima faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja,yaitu:
a.       Perubahan Jasmani
b.      Perubahan pola interaksi dengan orang tua
c.       Perubahan interaksi dengan teman sebaya
d.      Perubahan pandangan luar
e.       Perubahan interaksi dengan lingkungan sekolah
Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar(Hurlock, 1960:266). Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Anak memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia beranjak dari masa kanak-kanak kemasa remaja. Peralihan pernyataan emosi yang bersifat umum ke emosinya sendiri yang bersifat individual ini dan memperhalus perasaan merupakan bukti/petunjuk adanya pengaruh yang bertahap dan latihan serta pengendalian terhadap perilaku emosional. Dengan bertambahnya umur, menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional. Bertambahnya pengetahuan dan pemanfaatan media massa/keseluruhan latar belakang Pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.

  1. Upaya mengembangkan emosi remaja dan implikasinya dalam penyelenggara pendidikan.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja agar berkembang kearah kecerdasan antara lain dengan belajar mengembangkan:
a.       Keterampilan emosional
b.      Keterampilan kognitif
c.       Keterampilan prilaku

  1. Perkembangan Nilai,Moral dan Sikap

1. Pengertian nilai moral dan sikap
Nilai, yaitu (1) suatu keyakinan, (2) berhubungan dengan cara bertingkah laku dan tujuan akhir tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya.

Istilah moral berasal dari kata "mores" (latin) yang artinya tata cara dalam kehidupan,adat istiadat atau kebiasaan(Gunarsa 1988:36). Moral pada dasarnya merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi(Shaffer 1979:408).
Sikap adalah prodisposisi emosional yang dipelajari untuk berespons secara konsisten terhadap suatu objek (fishbein 1975:6). Sikap merupakan variabel latent yang  mendasari,mengarahkan dan mempengaruhi prilaku.

2. Hubungan antara nilai,moral dan sikap
Nilai merupakan dasar pertimbangan dari individu untuk melakukan sesuatu,moral merupakan perilaku yang harus dilakukan atau dihindari,sedangkan sikap merupakan kesiapan (predisposisi) individu untuk bersespons/bertindak terhadap objek sebagai manivestasi dari sistem nilai dan moral yang ada didalamnya. Sistem nilai mengarahkan pada pembentukan nilai-nilai moral tertentu yang selanjutnya akan menentukan sikap individu sehubungan dengan objek nilai dan moral tersebut. Dengan sistem nilai yang dimiliki individu akan menentukan perilaku mana yang harus dilakukan dan yang harus dihindara yang akan nampak dalam sikap dan perilaku nyata sebagai manifestasi dari sistem nilai dan moral yang mendasarinya.

3. Karakteristik nilai,moral, dan sikap pada remaja
Salah satu karakteristik remaja yang sangat menonjol yang berkaitan dengan nilai adalah bahwa remaja sudah sangat merasakan akan pentingnya tata nilai dan mengembangkan nilai-nilai baru yang sangat diperlukan sebagai pedoman,pegangan,atau petunjuk dalam mencari jalannya sendiri untuk menumbuhkan identitas diri menuju kepribadian yang semakin matang(Sarwono,1989). Pembentukan nilai-nilai baru ini dilakukan dengan cara identifikasi dan imitasi terhadap tokoh atau model tertentu atau bisa saja berusaha mengembangkannya sendiri.
Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berfikir operasional formal,yakni mulai mampu berfikir abstrak dan mulai mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotetis,maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalahan tidak lagi hanya terikat pada waktu,tempat,dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka(Gunarsa,1988). Perkembangan pemikiran moral remaja dicirikan dengan mulai tumbuh kesadaran akan kewajiban mempertahankan kekuasaan dan pranata yang ada karena dianggapnya sebagai suatu yang bernilai walau belum mampu mempertanggungjawabkannya secara pribadi(Monks,1989). Perkembangan pemikiran moral remaja yang demikian ini,jika meminjam teori perkembangan moral dari Kohlberg berarti sudah mencapai tahap konvensional. Pada akhir masa remaja akan memasuki tahap perkembangan pemikiran moral berikutnya yang disebut dengan tahap pasca konvensional/dimana orisinalitas pemikiran moral remaja sudah semakin tampak jelas. Pemikiran moral remaja berkembang sebagai pendirian pribadi yang tidak tergantung lagi pada pendapat atau pranata-pranata yang bersifat konvensional.
Perubahan sikap yang cukup menyolok dan ditempatkan sebagai salah satu karakter remaja adalah sikap menantang nilai-nilai dasar hidup orang tua dan orang dewasa lainnya(Gunarsa 1988),apalagi kalau orang tua atau orang dewasa lainnya berusaha memaksakan nilai-nilai yang dianutnya kepada remaja. Sikap menentang melawan pranata adat kebiasaan yang ditunjukkan oleh para remaja ini merupakan gejala wajar yang terjadisebagai unjuk kemampuan berpikir kritis terhadap segala sesuatau yang dihadapi dalam realitas. Gejala dikap menentang pada remaja itu hanya bersifat sementara dan akan berubah serta berkembang kearah moralitas yang lebih matang dan mandiri.
Lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja menurut michael yaitu:
a. pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrae
b. keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan
c. penilaian moral menjadi semakin kognitif
d. penilaian moral menjadi kurang egoistik
e. penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal
dalam penyelidikan yang dilakukan oleh kolhberg mengemukakan 6 tahap(stadium) perkembangan moral. Ada tinkat perkembangan moral menurut kolhberg, yaitu tingkat:
1. prakonvensional
2. konvensional
3. postkonvensional


4. Faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai,moral dan sikap
Lingkungan merupakan faktor penentu bagi pertumbuhan dan perkembangan nilai-nilai,moral dan sikap-sikap individu(Horrocks,1976;Gunarsa 1988). Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan nilai,moral dan sikap individu ini mencakup aspek psikologis,sosial,budaya dan fisi kebendaan,bak yang terdapat dalam lingkungan keluarga,sekolah maupun masyarakat.

5. Upaya pengembangan nilai,moral dan sikap pada remaja serta implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan.
Suatu sistem sosial yang paling awal berusaha menumbuhkembangkan sistem nilai,moral dan sikap kepada anak-anak adalah keluarga. Ini didorong oleh keinginan dan harapan yang kuat pada orang tua agar anaknya tumbuh dan berkembang menjadi individu yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang luhur,mampu membedakan antara yang baik dan buruk dan para orang tua menanamkan nilai-nilai luhur,moral dan sikap yang baik bagi anak-anaknya agar dapat berkembang menjadi generasi penerus yang diidamkan.
Upaya pengembangan nilai,moral dan sikap juga diharapkan dapat dikembangkan secara efektif dilingkungan sekolah. Disekolah ada bidang studi PMP,Pendidikan  Agama,etika dan budi pekerti yang emplisit dalam setiap bidang studi yang diajarkan.
Ada serangkaian penelitian menarik yang dilakukan oleh Blatt dan Kohlberg (1995) yang menunjukkan bahwa upaya pedagogis yang lebih terbatas untuk merangsang proses perkembangan moral dapat juga memiliki dampak yang berarti pada anak.
Prosedur diskusi moral yang digunakan oleh Blatt yaitu prosedur pertama,kurikulum pendidikan moral dipusatkan pada suatu rangkaian dilema moral yang didiskusikan bersama-sama antara siswa dan guru. Prosedur kedua, menimbulkan diskusi antara para murid pada dua tahap perkembangan moral yang berdekatan.
Implikasi bagi pendidikan dari hasil-hasil penelitian blatt itu adalah bahwa guru harus secara serius membantu para siswa untuk mempertimbangkan berbagai konflik moral yang sesungguhnya,memikirlan cara pertimbangan yang digunakan dalam menyelesaikan konflik moral,melihat ketidakkonsistenan dalam cara berfikirnya,dan menemukal jalan untuk mengatasinya.


KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN EMOSI, NILAI, MORAL, SIKAP REMAJA

1. Pengertian Emosi

Emosi merupakan perasaan-perasan yang dipengaruhi dari warna afektif. Warna afektif yang dimaksud disini adalah perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari. Disamping perasaan senang atau tidak senang, beberapa contoh macam emosi yang lain adalah gembira, senang, cinta, marah, takut, cemas dan benci. Pada saat emosi seringkali terjadi perubahan-perubahan pada fisik, antara lain berupa:

a. Peredaran darah ; bertambah cepat bila marah
b. Reaksi elektris pada kulit ; meningkat bila terpesona
c. Denyut jantung ; bertambah cepat bila terkejut
d. Pernapasan ; bernapas panjang kalau kecewa
e. Pupil mata ; membesar bila marah
f. Bulu roma ; berdiri kalau takut, dsb.

2. Pengertian nilai
Schwartz (1994) juga menjelaskan bahwa nilai adalah (1) suatu keyakinan, (2) berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir tertentu, (3) melampaui situasi spesifik, (4) mengarahkan seleksi atau evaluasi terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian, serta (5) tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.
Nilai sebagai sesuatu yang lebih diinginkan harus dibedakan dengan yang hanya ‘diinginkan’, di mana ‘lebih diinginkan’ mempengaruhi seleksi berbagai modus tingkah laku yang mungkin dilakukan individu atau mempengaruhi pemilihan tujuan akhir tingkah laku (Kluckhohn dalam Rokeach, 1973). ‘Lebih diinginkan’ ini memiliki pengaruh lebih besar dalam mengarahkan tingkah laku, dan dengan demikian maka nilai menjadi tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.

3. Pengertian Moral
Istilah moral berasal dari kata "mores" (latin) yang artinya tata cara dalam kehidupan,adat istiadat atau kebiasaan(Gunarsa 1988:36)

4. Karakteristik nilai, moral dan sikap remaja.
Lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja menurut michael yaitu:
a. pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrae
b. keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan
c. penilaian moral menjadi semakin kognitif
d. penilaian moral menjadi kurang egoistik
e. penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal
dalam penyelidikan yang dilakukan oleh kolhberg mengemukakan 6 tahap(stadium) perkembangan moral. Ada tinkat perkembangan moral menurut kolhberg, yaitu tingkat:
1. prakonvensional
2. konvensional
3. postkonvensional
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja
      Ada lima faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja,yaitu:
d.      Perubahan Jasmani
e.       Perubahan pola interaksi dengan orang tua
f.       Perubahan interaksi dengan teman sebaya
g.      Perubahan pandangan luar
h.      Perubahan interaksi dengan lingkungan sekolah

6. Karekteristik Perkembangan Emosi Remaja
Karakteristik perkembangan remaja sejalan dengan perkembangan masa remaja itu sendiri,yaitu sebagai berikut:
a. Perubahan fisik tahap awal pada periode pra-remaja disertai sikap kepekaan terhadap rangsang-rangsang dari luar menyebabkan responnya biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng,tetapi juga cepat merasa senang bahkan meledak-ledak.
b. Perubahan fisik yang semakin tampak jelas pada periode remaja awal menyebabkan mereka cendrung menyendiri sehingga tidak jarang pula merasa terasing,kurang perhatian dari orang lain,atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau memperdulikannya.
c. Periode remaja tengah sudah semakin menyadari pentingnya nilai-nilai yang dapat dipegang teguh sehingga jika melihat fenomena yang terjadi di masyarakat yang menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui menyebabkan remaja sering kali secara emosional ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar,baik dan pantas untuk dikembangkan dikalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orang tua atau orang dewasa disekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya.
d.Periode remaja akhir mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai menunjukkan pemikiran,sikap,perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu,orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga semakin lebih bagus dan lancar karena mereka sudah semakin bebas penus serta emosinya pun mulai stabil.


5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai, moral dan sikap
Bagi para ahli psikoanalisis perkembangan moral dipandang sebagai proses internalisasi norma-norma masyarakat dan dipandang sebagai kematangan dari sudut organik biologik. Teori-teori lain yang lain yang nonpsikoanalisis beranggapan bahwa hubungan teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh kohlberg menunjukan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Dalam perkembangan nilai kohlberg menyatakan adanya tahap-tahap yang berlangsung sama pada setiap kebudayaan. Moral yang sifatnya penalaran menurut kohlberg perkembangannya dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh piaget.

6. Saling keterkaitan antara nilai, moral, dan sikap serta pengaruhnya terhadap tingkah laku.
Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya, adat kebiasaan dan sopan santun (sutikna, 1988:5).nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila yang termasuk dalam sila kemanusiaan yang beradil dan beradab, antara lain:
a. mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia
b. mengembangkan sikap tenggang rasa
c. tidak semena-mena terhadap orang lain, berani membela kebenaran dan keadilan, dsb.
Kaitannya antara nilai dan moral:
Moral adalah ajaran tenggang baik-buruk, perbuatan, kelakuan akhlak, kewajiban, dsb.(purwa darminto, 1957:957). Dalam kaitannya dengan pengalaman nilai-nilai hidup maka moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang dimaksud. Dengan demikian keterkaitan antara nilai, moral dan sikap tingkah laku akan tampak dalam pengalaman nilai-nilai.

7. Upaya pengembangan nilai,moral dan sikap pada remaja serta implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan.
            Suatu sistem sosial yang paling awal berusaha menumbuhkembangkan sistem nilai,moral dan sikap kepada anak-anak adalah keluarga. Ini didorong oleh keinginan dan harapan yang kuat pada orang tua agar anaknya tumbuh dan berkembang menjadi individu yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang luhur,mampu membedakan antara yang baik dan buruk dan para orang tua menanamkan nilai-nilai luhur,moral dan sikap yang baik bagi anak-anaknya agar dapat berkembang menjadi generasi penerus yang diidamkan.
            Upaya pengembangan nilai,moral dan sikap juga diharapkan dapat dikembangkan secara efektif dilingkungan sekolah. Disekolah ada bidang studi PMP,Pendidikan  Agama,etika dan budi pekerti yang emplisit dalam setiap bidang studi yang diajarkan.
Ada serangkaian penelitian menarik yang dilakukan oleh Blatt dan Kohlberg (1995) yang menunjukkan bahwa upaya pedagogis yang lebih terbatas untuk merangsang proses perkembangan moral dapat juga memiliki dampak yang berarti pada anak.
Prosedur diskusi moral yang digunakan oleh Blatt yaitu prosedur pertama,kurikulum pendidikan moral dipusatkan pada suatu rangkaian dilema moral yang didiskusikan bersama-sama antara siswa dan guru. Prosedur kedua, menimbulkan diskusi antara para murid pada dua tahap perkembangan moral yang berdekatan.
            Implikasi bagi pendidikan dari hasil-hasil penelitian blatt itu adalah bahwa guru harus secara serius membantu para siswa untuk mempertimbangkan berbagai konflik moral yang sesungguhnya,memikirlan cara pertimbangan yang digunakan dalam menyelesaikan konflik moral,melihat ketidakkonsistenan dalam cara berfikirnya,dan menemukal jalan untuk mengatasinya.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar