Selasa, 02 November 2010

Briket Kulit Durian


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan curah hujan yang tinggi. Hal ini menyebabkan Indonesia memiliki hutan hujan tropis yang lebat dan tanah subur sehingga cocok untuk ditanami berbagai jenis tumbuhan, salah satunya adalah durian.
Durian merupakan tanaman buah liar berupa pohon yang berasal dari hutan Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Buah durian ini sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad tujuh Masehi. Sebutan durian diduga berasal dari istilah melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran –an sehingga menjadi durian. Kata ini dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam. (Andri Wijaya,2007).
Di beberapa daerah di Indonesia, buah ini dikenal dengan nama tersendiri. Nama terbanyak di temukan di Kalimantan, hal ini dikarenakan penamaan durian di Kalimantan mengacu pada berbagai varietas dan spesies yang berbeda.  Di Jawa, durian dikenal dengan nama duren (bahasa jawa, bahasa Betawi) dan kadu (bahasa Sunda). Di Sumatera di kenal sebagai durian dan duren (bahasa gayo). Di Sulawesi orang Manado menyebut buah ini dengan sebutan duriang, sementara orang Toraja menyebutnya duliang. Sedangkan di Pulau Seram bagian timur, buah durian disebut dengan rulen. (http://id.wikipedia.org/wiki/Durian). Hal ini tidak mengherankan karena jenis buah durian memang terkenal dan tersebar di Indonesia.
Saat ini durian semakin banyak dilirik orang untuk dikebunkan. Buah ini memang layak untuk dikebunkan secara komersial, mengingat permintaan dan harganya yang tinggi dibandingkan dengan buah-buahan yang lain. Apalagi, pasokan dari tanaman milik rakyat dan hutan pun belum memenuhi permintaan.

Bahkan durian unggul jenis monthong yang harganya berkisar antara Rp.15.000 - Rp.40.000 per kilogram masih mengandalkan pasokan dari Thailand dan Malaysia ( Bernardinus T. Wahyu Wiryanta,2008).
Daya serap pasar terhadap durian sampai dengan dua puluh tahun mendatang diperkirakan cukup baik. Dari perhitungan kasar, potensi pasar durian di Indonesia masih mampu menyerap pengembangan sampai 100.000 hektar dengan tingkat produksi 10 ton per hektar atau satu milyar kilogram per musim. Perhitungan tersebut diambil dengan perkiraan daya serap penduduk Indonesia terhadap durian bisa mencapai 5 kg (1,5 butir) perkapita per tahun.  ( Bernardinus T. Wahyu Wiryanta,2008)
Khusus untuk Kalimantan Barat, produksi buah durian ini tersebar di beberapa kabupaten/kota. Pada tahun 2008, produksi buah durian terbanyak terdapat di Kabupaten Sambas dengan total produksi sebanyak 3956 ton  (Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat,2008). Jumlah ini diperkirakan terus  bertambah mengingat permintaan pasar sampai dua puluh tahun kedepan masih menjanjikan.
Selain menghasilkan buah yang bisa dinikmati isi daging buahnya, durian juga menghasilkan limbah yang berupa biji dan kulit durian. Kedua limbah ini tergolong dalam limbah organik. Dapat dibayangkan jika produksi buah durian mencapai 10 ton per hektarnya atau 3956 ton khusus untuk produksi se-Kalimantan Barat, akan ada berapa banyak sampah organik yang dihasilkan dari durian? Tentunya jumlah sampah oraganik ini cukup banyak mengingat jumlah durian yang diproduksi mencapai ribuan ton.
Dari perkiraan yang dipaparkan diatas, secara tidak langsung produksi buah durian tersebut akan menimbulkan suatu permasalahan lingkungan. Permasalahan tersebut muncul ketika ada pertanyaan “dari sekian banyak buah yang diproduksi, apakah limbah dari buah durian itu akan terbuang begitu saja?” Jika jawaban dari pertanyaan tersebut adalah benar, maka akan terjadi pencemaran lingkungan berupa sampah organik yang tidak tertangani dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan sampah organik di Indonesia mencapai 60-70 persen dari total volume sampah yang dihasilkan, sehingga apabila diabaikan maka dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, munculnya penyakit dan menurunkan nilai estetika serta masalah-masalah lainnya (http://www.yahoindo.com/archive/index.php/t-5377.html).
Akan tetapi, jika kita menemukan alternatif lain dalam pemanfaatan limbah durian tersebut, maka pencemaran ini dapat dikurangi serta tidak menutup kemungkinan akan menjadi peluang usaha yang baik mengingat ketersediaan limbah durian cukup banyak serta mudah dan murah dalam memperolehnya.
Salah satu limbah dari buah durian yang perlu kita perhatikan adalah kulit durian. Selama ini, masyarakat Indonesia cenderung hanya memanfaatkan durian dengan mengambil daging buah dan bijinya untuk dibuat berbagai macam panganan, misalnya dodol/lempok, campuran kolak, selai, bahan campuran untuk kue dan tempoyak (http://www.yahoindo.com /archive/index.php/t-5377.html). Sementara, kulitnya akan menjadi sampah yang kurang bermanfaat.
Berdasarkan penelitian, sebenarnya kulit durian mengandung bahan yang tersusun dari selulosa yang tinggi (50% - 60 %) dan lignin (5%) serta pati yang rendah (5%) (Ade Fadli,2010) . Bahan-bahan ini merupakan bahan yang mudah terbakar. Hal ini menjadi sebuah indikasi bahwa kulit durian dapat diolah menjadi bahan bakar.
Belajar dari kehidupan masyarakat di pedesaaan pada beberapa puluh tahun yang silam, sebenarnya mereka sudah tahu bagaimana memanfaatkan limbah kulit durian ini. Biasanya kulit durian yang terbuang mereka susun diatas para-para (tempat memasak), setelah kering dibakar untuk pengusir nyamuk pada malam hari atau sebagai bahan bakar memasak.
 Jika dalam pemanfaatan kulit durian sebagai bahan bakar dilakukan seperti kebiasaan masyarakat di pedesaan jaman dahulu, tentunya kulit durian ini tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pengolahan kulit durian pada jaman dahulu masih dilakukan secara sederhana dan kurang praktis untuk digunakan pada jaman sekarang mengingat teknologi dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang, sehingga jika kita terapkan metode pengolahan limbah kulit durian seperti jaman dahulu, maka produk yang dihasilkan tidak dapat bersaing dengan produk-produk bahan bakar lainnya. Disini penulis mencoba mencari alternatif lain dalam mengolah limbah kulit  durian ini menjadi suatu produk bahan bakar yang bernilai jual dan ekonomis serta dapat bersaing dengan produk-produk lainnya, yaitu mengolah limbah kulit durian tersebut menjadi briket.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, ada      beberapa permasalahan yang akan dibahas lebih lanjut terkait dengan pembuatan briket berbahan dasar kulit durian, antara lain :
1.         Bagaimana cara pengolahan limbah kulit durian menjadi briket yang siap pakai dan  bernilai jual?
2.         Bagaimana potensi dan prospek dari usaha produksi briket durian?

1.3. Tujuan Penulisan
Penulisan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk memberikan suatu alternatif pengolahan limbah kulit durian menjadi briket yang bernilai jual tetapi ekonomis. Selain itu penulisan karya ilmiah ini juga bertujuan untuk :
1.         Mengetahui bagaimana cara mengolah limbah kulit durian menjadi briket yang siap pakai.
2.         Menganalisa potensi dan prospek dari usaha produksi briket durian.



BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 Durian
Durian adalah nama tumbuhan tropis yang berasal dari Asia Tenggara. Nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri. Sebutan populernya adalah "raja dari segala buah" ( ).
Klasifikasi ilmiah durian adalah sebagai berikut:
Kingdom                           : Plantae
Ordo                                  : malvales
Famili                                : malvaceae
Genus                                : Durio
Nama binomial                  : D.zibethinus
Pohon durian mampu berusia tahunan, tumbuh tinggi hingga mencapai ketinggian 25 –50 m tergantung spesiesnya. Pohon durian ini terdiri dari akar yang memiliki banir (akar papan), batang dan ranting. Kulit batang pohon durian berwarna coklat kemerahan, mengelupas tidak beraturan ( ).
Daun tumbuhan ini berbentuk jorong hingga lanset,

terletak berseling; bertangkai; berpangkal lancip atau tumpul dan berujung lancip melandai; sisi atas berwarna hijau terang, sedangkan sisi bawah daunnya tertutup sisik-sisik berwarna perak atau keemasan dengan bulu-bulu bintang. Pengguguran daun durian tidak tergantung musim tetapi pada saat masa berbuah selesai, terjadi pengguguran untuk menumbuhkan daun-daun baru (periode flushing atau peronaan) ( ).
Bunga dan buahnya muncul langsung dari batang (cauliflorous) atau cabang-cabang yang tua di bagian pangkal (proximal), berkelompok dalam karangan berisi 3-10 kuntum yang berbentuk tukal atau malai rata. Kuncup bunganya membulat, dengan diameter sekitar 2 cm. Kelopak bunga berbentuk tabung. Mahkotanya berbentuk sudip, kira-kira 2 kali panjang kelopak, bewarna keputih-putiah dan berjumlah 5 helai.
 
Benangsari dari bunga durian ada yang berjumlah 5-12 buah (durio zibethinus atau durian biasa) dan ada juga yang berjumlah 3 buah (durio graveilens atau tabelak). Tangkai kepala putik bewarna kemerahan, berbentuk pipa dan lebih panjang dari mahkota. Kepala putiknya bewarna merah muda dan juga berbentuk pipa kecil (Setiadi,2008).
Buah durian bertipe kapsul berbentuk bulat, bulat telur hingga lonjong, dengan panjang hingga 25 cm dan diameter hingga 20 cm. Kulit buahnya tebal, permukaannya bersudut tajam (berduri, walaupun ini bukan duri dalam pengertian botani), berwarna hijau kekuning-kuningan, kecoklatan, hingga keabu-abuan.
Buah berkembang setelah pembuahan dan memerlukan waktu 4-6 bulan untuk pemasakan. Pada masa pemasakan terjadi persaingan antarbuah pada satu kelompok, sehingga hanya satu atau beberapa buah yang akan mencapai kemasakan, dan sisanya gugur. Buah akan jatuh sendiri apabila masak. Pada umumnya berat buah durian dapat mencapai 1,5 – 5,0 kilogram.
Setiap buah memiliki lima ruang, yang menunjukkan banyaknya daun buah yang dimiliki. Masing-masing ruangan terisi oleh beberapa biji. Biji terbungkus oleh arilus (salut biji) berwarna putih hingga kuning terang dengan ketebalan yang bervariasi, namun pada kultivar unggul ketebalan arilus ini dapat mencapai 3 cm. Pemuliaan durian diarahkan untuk menghasilkan biji yang kecil dengan salut biji yang tebal, karena salut biji inilah bagian yang dimakan. Beberapa varietas unggul menghasilkan buah dengan biji yang tidak berkembang namun dengan salut biji tebal.

2.2 Limbah
Secara umum, yang disebut limbah adalah bahas sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik dalam skala rumah tangga, produksi, pertambangan dan sebagainya (http://www.scribd.com/doc/ 166528 01/pengertian-limbah). Limbah atau sampah juga dapat diartikan sebagai limbah atau kotoran yang dihasilkan karena pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. (http://sobatbaru.blogspot.com/2008/05/pengertian-limbah-dan-polusi.html).
Sedangkan definisi limbah dari B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) adalah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan yang berbaAhaya dan beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability, reactivity dan corrosivity) serta konsentrasi serta jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan atau membahayakan kesehatan manusia.  
Berdasarkan asalnya, limbah dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu :
2.2.1. Limbah Anorganik
Limbah ini terdiri atas limbah industri atau limbah pertambangan. Limbah anorganik berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat di uraikan dan tidak dapat diperbaharui. Air limbah industri dapat mengandung berbagai jenis bahan anorganik, zat-zat tersebut adalah :
a.       Garam anorganik seperti magnesium sulfat, magnesium klorida yang berasal dari kegiatan pertambangan dan industri.
b.      Asam anorganik seperti asam sulfat yang berasal dari industri pengolahan biji logam dan bahan bakar fosil.
Adapula limbah anorganik yang berasal dari kegiatan rumah tangga seperti botol plastik, botol kaca, tas plastik, kaleng dan aluminium. (Arianto sam,2008)

2.2.2.  Limbah Organik
Limbah organik terdiri atas bahan-bahan yang bersifat organik seperti dari kegiatan pertanian dan kegiatan rumah tangga. Limbah ini bisa diuraikan melalui proses yang alami. Limbah pertanian berupa sisa tumpahan atau penyemprotan yang berlebihan, misalnya dari pestisida dan herbisida mempunyai sifat kimia yang stabil sehingga zat tersebut akan mengendap kedalam tanah, dasar sungai, danau, serta laut dan selanjutnya akan mempengaruhi organisme yang hidup didalamnya (Arianto sam,2008)
Sedangkan limbah rumah tangga dapat berupa padatan seperti kertas, plastik dan lain-lain, dan berupa cairan seperti air cucian dan minyak goreng bekas. Limbah tersebut ada yang mempunyai daya racun yang tinggi sehingga tergolong bahan berbahaya dan beracun misalnya : sisa obat, baterai bekas, dan air aki. Sementara, limbah air cucian dan limbah kamar mandi dapat mengandung bibit-bibit penyakit atau pencemar biologis seperti bakteri, jamur, virus dan sebagainya (http://sobatbaru.blogspot.com/2008/05/pengertian-limbah-dan-polusi. html).

2.3 Kulit Buah Durian
Kulit durian adalah pembungkus dari daging buah durian. Kulit ini mengandung minyak atsiri, flavonoid, saponin, unsur selulosa serta lignin yang mudah terbakar. Pembakaran terjadi karena penguraian kulit durian akibat perlakuan panas. Peristiwa ini dapat terjadi pada pemanasan langsung atau tidak langsung dalam timbunan tanpa atau dengan udara terbebas.


Untuk satu bagian kulit buah durian yang sudah kering bisa melakukan pembakaran hingga 20 menit. Untuk menghasilkan kualitas pembakaran yang baik, biasanya masyarakat memasang 5 hingga 10 bagian kulit durian dalam satu kali pembakaran. Jika sudah habis, di tambahkan lagi dengan jumlah kulit durian kering lainnya sesuai kebutuhan.

2.4 Briket
Briket dapat dibuat dari bahan-bahan yang mengandung lignin dan selulosa seperti kayu, bambu, sabut kelapa, dan kulit durian. Bahan-bahan tersebut sering ditemukan sebagai limbah organik baik diperkotaan maupun di pedesaan. Bahkan, kulit durian dapat mudah ditemukan saat musim buah durian tiba.
Briket arang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan arang kayu seperti halnya dinyatakan oleh (Sa’id,1996) antara lain dapat ditingkatkan kerapatannya, bentuk dan ukurannya dapat disesuaikan, tidak kotor, mudah diangkut, dan praktis sebagai bahan bakar.
Briket arang dapat ditingkatkan kerapatannya karena dalam proses pembuatannya melalui tahap pencetakan, dimana saat mencetak briket sesuai dengan bentuk yang diinginkan, adonan briket arang ditekan sehingga tingkat kerapatannya lebih tinggi. Briket arang tidak kotor dalam artian bahwa pada saat pembakaran, abu yang dihasilkan sedikit. Briket arang juga praktis untuk digunakan karena mudah dibawa, tidak berat dan panas yang dihasilkan tinggi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Ada empat ciri utama dari penelitian kepustakaan yaitu:
·         Pertama, peneliti berhadapan langsung dengan teks/naskah atau data angka dan bukan dengan pengetahuan langsung dari lapangan atau saksi mata berupa kejadian, orang atau benda-benda lainnya.
·         Kedua, data pustaka bersifat siap pakai. Artinya peneliti tidak melakukan percobaan langsung, kecuali hanya berhadapan langsung dengan bahan sumber yang sudah tersedia di perpustakaan
·         Ketiga, data pustaka umumnya adalah sumber sekunder, dalam arti peneliti memperoleh bahan dari tangan kedua dan bukan data orisinil dari tangan pertama di lapangan
·         Keempat, kondisi data pustaka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena peneliti berhadapan dengan data yang bersifat statik (tetap).
(Mestika Zed, 2008)

3.2. Prosedur Penelitian
Penulisan karya tulis ini bermula dari kesadaran penulis saat melihat fenomena musim durian tiba, dimana begitu banyak buah durian diperjual-belikan. Banyaknya buah durian yang dihasilkan berbanding lurus dengan banyaknya kulit durian yang menjadi sampah. Hal ini dikarenakan masyarakat belum mengetahui manfaat dari kulit durian itu sebenarnya.
Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa kulit durian mengandung selulose yang tinggi dan lignin (Ade Fadli, 2010). Kedua bahan ini mengidentifikasikan bahwa kulit durian bisa dibuat bahan bakar.
Sebelumnya telah banyak bahan bakar yang digunakan oleh masyarakat, mulai dari minyak tanah, gas elpiji, sabut kelapa, tempurung kelapa dan briket yang berasal dari tempurung kelapa. Tetapi harga bahan bakar diatas cendrung kurang ekonomis. Dari fakta tersebut muncul ide untuk mengolah kulit durian menjadi briket mengingat limbah yang berasal dari kulit durian pada saat musim buah durian tiba sangat melimpah dan berdasarkan penelitian bahwa kulit durian dapat dijadikan bahan bakar.
Ide pengolahan briket berbahan dasar kulit durian ini dikembangkan dengan tahap selanjutnya,yaitu mencari literatur yang relevan. Dari sebuah literatur yang ditemukan terdapat pernyataan yang mengatakan bahwa kulit durian sudah dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan zaman dahulu sebagai bahan bakar untuk memasak makanan dan pengusir nyamuk. Hal ini mendukung penelitian yang menyatakan bahwa kulit durian bisa dijadikan bahan bakar.
Tahapan selanjutnya, penulis melakukan telaah pustaka berdasarkan literatur yang telah ada. Dari telaah pustaka, diperoleh informasi mengenai proses pembuatan briket durian dan selanjutnya penulis melakukan analisis proses pembuatan serta biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan briket kulit durian.
Langkah selanjutnya adalah melakukan perbandingan harga dan keunggulan briket kulit durian dengan bahan bakar minyak tanah, gas elpiji dan briket tempurung kelapa. Dan yang terakhir menarik kesimpulan terhadap prospek usaha pengolahan briket kulit durian.


 


     


3.1 Diagram prosedur penelitian
3.3. Waktu penelitian dan tempat penelitian
3.3.1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai 25 Agustus sampai 20 September 2010.
3.2.2. Tempat Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Jalan Adi Sucipto gang Ismail Saleh No.171E Pontianak.

BAB  IV
PEMBAHASAN
4.1. Proses Pembuatan Briket Kulit durian           
Proses pembuatan briket kulit durian dimulai dengan proses pemotongan kulit durian menjadi potongan-potongan kecil. Hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pembakaran. Potongan-potongan kecil kulit durian tersebut kemudian di jemur dengan menggunakan alas seng sehingga potongan-potongan tersebut benar-benar kering. Penggunaan alas seng bertujuan agar pemanasan kulit durian tidak hanya pada bagian kulit durian yang terkena sinar matahari saja, tetapi juga pada bagian bawahnya. Seng merupakan logam yang dapat menyerap panas dengan baik, sehingga ketika di jemur, seng akan menyerap panas dan panas tersebut membuat seluruh permukaan seng ikut panas, akibatnya kulit durian yang diletakkan diatasnya juga mendapat panas dari bawah.
Tahap selanjutnya adalah pembakaran. Pembakaran kulit durian dilakukan di dalam drum dimana ranting atau jerami yang kering terlebih dahulu dimasukan kemudian disusul dengan kulit durian yang telah dijemur. Setelah itu, tumpukan kulit durian ditutup kembali dengan ranting atau jerami. Tumpukan jerami dan durian tersebut kemudian dibakar. Penggunaan ranting atau jerami bertujuan untuk mempermudah proses pembakaran. Ranting dan jerami lebih mudah terbakar dibandingkan dengan kulit durian, sehingga api yang dihasilkan dari proses pembakaran ranting atau jerami dapat membantu proses pembakaran kulit durian.
Drum tempat pembakaran ditutup dengan penutup agar udara yang masuk kedalam grum dapat dikendalikan (Ismun Uti Adan,1998).  Dibagian penutup diberi sedikit lubang diujungnya agar api tidak padam dan asap hasil pembakaran dapat keluar. Ketika sudah tidak ada asap yang keluar dari lubang tutup tersebut, penutup dapat dibuka dan hasil pembakaran diaduk-aduk untuk memastikan bahwa kulit durian telah menjadi arang. Lamanya proses pembakaran tergantung pada jumlah dan kandungan air dari kulit durian. Semakin banyak kulit durian yang dibakar maka semakin lama waktu pembakarannya. Demikian pula dengan kandungan air. Proses pembakaran telah selesai jika tidak ada lagi asap yang keluar dari lubang tutup pembakaran seperti yang dijelaskan diatas.
Setelah proses pembakaran selesai, hasil pembakaran tadi diangkat dan disaring agar benar-benar diperoleh bagian yang telah menjadi arang. Arang tersebut kemudian ditumbuk agar menjadi halus dan diayak untuk mendapatkan bubuk arang yang merata besarnya. Langkah selanjutnya adalah mengadon perekat kanji dengan arang hasil pembakaran.
Perekat kanji dibuat dari tepung tapioka yang mudah dibeli di toko-toko makanan dan di pasar. Perekat ini biasa untuk mengelem perangko dan kertas. Cara membuatnya sangat mudah, yaitu cukup dengan mencampurkan tepung tapioka dengan air  dengan perbandingan 1 : 12, yaitu untuk 100 gram tepung tapioka dicampur dengan 1200 ml air (Setyawan, 2006). Setelah itu campuran tepung tapioka dan air tadi dipanaskan. Selama pemanasan, tepung diaduk terus-menerus agar tidak menggumpal. Warna tepung yang semula putih akan berubah menjadi transparan setelah beberapa menit dipanaskan dan terasa lengket ditangan.
Jika sudah siap, lem didinginkan terlebih dahulu, lalu dimasukkan kedalam wadah yang berisi arang yang sudah ditumbuk. Perbandingan yang tepat antara perekat dan bubuk arang adalah 600cc cairan lem dicampur dengan satu kilogram arang yang telah ditumbuk. Saat digunakan perbandingan antara lem dengan bubuk arang harus tepat supaya briket yang dicetak hasilnya baik. Lem yang terlalu encer atau terlalu pekat akan memperlambat proses pencetakan. Hal ini disebabkan tingkat kekerasan maupun ketahanan briket terhadap benturan menjadi berkurang dan mudah retak. (Osman dan Marsono,2008).
Dalam pengadonan ditambahkan air sedikit demi sedikit. Penambahan air bertujuan agar adonan briket kulit durian mudah menyatu. Jumlah air yang dimasukkan sebanyak 10% dari berat arang kulit durian yang akan diadon (Slamat Agung Haryadi,2010). Hal ini bertujuan agar kandungan air dalam briket kulit arang hanya sedikit.
Tahap selanjutnya adalah pencetakan. Cetakan yang dibutuhkan dapat dibuat sendiri atau dipesan melalui mediator. Ada berbagai macam alat pencetak yang dapat dipilih, mulai dari yang paling ringan hingga super berat, tergantung tujuan penggunaannya. Setiap cetakan menghendaki kekerasan atau kekuatan pengempaan sampai nilai tertentu sesuai dengan pemesannya. Biasanya briket skala rumah tangga memiliki tingkat kekerasan antara 2.000 – 5.000 kg/cm2, sedangkan untuk industry tingkat kekerasannya sekitar 5.000 – 20.000 kg/cm2. Semakin padat dan keras briket, semakin awet daya bakarnya (Oswan dan Marsono,2008).
Selain menggunakan alat cetak, briket kulit durian juga dapat dibentuk sendiri dengan menggunakan tangan. Akan tetapi kualitas briket yang dihasilkan akan lebih rendah dibandingkan kualitas briket yang dibuat dengan cetakan, karena tekanan yang dialami oleh briket yang dibuat dengan tangan lebih kecil, sehingga kerapatan briketnya juga kecil.
Dipotong-potong
 
Adonan yang sudah dicetak tadi dijemur kembali diterik matahari dengan alas seng. Penjemuran dilakukan selama 12 jam hingga benar-benar kering. Tujuan penjemuran tahap dua adalah agar briket yang telah dicetak benar-benar kering sehingga saat digunakan briket kulit durian dapat menghasilkan panas yang tinggi.


 








4.1 diagram proses pembuatan briket dari kulit durian
4.2. Potensi dan prospek usaha produksi briket kulit durian
Produksi buah-buahan di Kalimantan Barat cukup beragam dan tersebar di seluruh Kabupaten/Kota, untuk beberapa komoditi penyebarannya  terpusat di Kabupaten/Kota tertentu, seperti jeruk dan durian di Kabupaten Sambas, pisang di Kabupaten Pontianak, nenas di Kota Singkawang (BPS Provinsi Kalimantan Barat, 2008).
Dari data Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat, dapat diketahui bahwa produksi buah durian di Kalimantan Barat dapat mencapai 16.436 ton per tahun. Produksi buah durian sebanyak ini tersebar di seluruh Kabupaten/Kota.
Tabel 4.1 Produksi buah durian tiap daerah pada tahun 2008
No
Kabupaten/Kota
Produksi Durian Per tahun (ton)
1
Kab. Sambas
3956
2
Kab. Bengkayang
1419
3
Kab. Landak
1235
4
Kab. Pontianak
1846
5
Kab. Sanggau
1951
6
Kab. Ketapang
279
7
Kab. Sintang
1420
8
Kab. Kapuas Hulu
518
9
Kab. Sekadau
520
10
Kab. Melawi
627
11
Kab. Kayong Utara
105
12
Kab. Kubu Raya
-
13
Kota Pontianak
240
12
Kota Singkawang
2320
Total
16.436
Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Barat, 2008.
Dalam pemanfaatannya, masyarakat Kalimantan Barat memanfaatkan buah durian hanya untuk di ambil daging buahnya saja sedangkan kulit dan bijinya tidak dimanfaatkan. Dengan memperhatikan potensi produksi buah durian yang dhasilkan per tahun, maka dapat diperkirakan bahwa limbah dari buah durian khususnya kulit durian yang dihasilkan pun akan sangat banyak. Hal ini merupakan suatu potensi yang cukup baik bagi usaha pembuatan briket kulit durian mengingat ketersediaan bahan baku berupa kulit durian yang sangat banyak dan tentu mudah serta murah dalam memperolehnya.
Melonjaknya harga minyak tanah di pasaran, mengakibatkan pengalihan pemakaian minyak tanah ke alternatif  bahan bakar lain yang lebih hemat dan praktis dalam penggunaannya. Di pasaran saat ini harga minyak tanah eceran dapat mencapai antara Rp 6.500 – Rp 7.500 per liter sedangkan harga briket arang dapat mencapai Rp 3.000 – Rp 4.500 per Kg (swara media, 2010). Terlihat bahwa pemakaian briket lebih murah dibandingkan minyak tanah. Briket kulit durian dapat dijual dengan harga yang sama dengan briket arang yaitu mencapai Rp 3.000 – Rp 4.500 tergantung pada harga bahan pendukung pembuatan briket kulit durian misalnya harga tepung tapioka.
Sebuah briket bisa menyala hingga 30 menit dengan suhu rata-rata 60 derajat Celsius. Dalam jumlah massal, satu kilogram briket bisa digunakan untuk memasak lebih dari empat jam. Waktu yang sama apabila memasak menggunakan kompor minyak tanah. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa nilai ekoeffisiensi dari briket cukup besar sehingga mengurangi biaya pengeluaran untuk pemakaian bahan bakar memasak (Boy Macklin,2008).
Penggunaan bahan bakar berbentuk briket memang lebih efektif dan efisien. Sebab bentuk dan ukurannya dapat disesuaikan dengan keperluan. Pembuatan briket kulit durian ini memberikan banyak keuntungan dibandingkan dengan pembuatan briket dengan bahan baku batubara atau kayu. Keuntungannya antara lain adalah:
·         Nilai kalorinya relatif tinggi, tak berbau, tidak bersifat polutan, tidak menghasilkan gas SO, dan bisa langsung menyala (tak perlu minyak tanah untuk “memancing” seperti pada briket batubara). (Berita 86, 2010).
·         Pemakaiannya relatif lama, sekitar 2 jam 20 menit. Bentuk dan ukurannya juga disesuaikan dengan kebutuhan (Berita 86, 2010).
·         Arangnya dapat ditingkatkan kerapatannya, bentuk dan ukurannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan, tidak kotor, mudah transportasinya, dan praktis untuk digunakan sebagai bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga (Beni Arif Pratama, 2009).
·         Briket ini menimbulkan bau harum ketika digunakan, sehingga cocok digunakan untuk industri makanan, baik berskala rumah tangga maupun besar (Beni Arif Pratama, 2009).
Briket kulit durian sebenarnya tak jauh berbeda dari briket arang tempurung kelapa dan briket arang kayu. Ketiganya sama-sama tidak berasap, sehingga relatif tidak menimbulkan polutan (zat pencemar) udara.Selain itu, ketiga jenis briket ini juga gampang digunakan. Inilah yang membedakannya dari briket batubara, yang penggunaannya kurang praktis dan pembakarannya menimbulkan polutan yang membahayakan kesehatan manusia. Perbedaan antara briket arang tempurung kelapa dan briket arang kayu dengan briket kulit durian adalah briket arang tempurung kelapa dan briket arang kayu merupakan arang yang diubah bentuk, ukuran, dan kerapatannya. Sedangkan briket kulit durian adalah residu yang sebagian besar komponennya adalah karbon. Hal ini terbentuk sebagai akibat penguraian kulit durian yang disebabkan oleh perlakuan panas. Peristiwa ini dapat terjadi pada pemanasan langsung atau tidak langsung dalam timbunan, kiln, retort, serta nur tanpa atau dengan udara terbebas (Beni Arif Pratama, 2009).
Peluang usaha pembuatan briket kulit durian memang masih terbuka lebar. Sebagaimana diketahui, pengguna briket kebanyakan adalah para pedagang makanan seperti pedagang sate, bakso, nasi goreng, ayam bakar dan ikan panggang. Jumlah pedagang makanan tersebut cukup banyak keberadaannya di Kalimantan Barat.
Usaha pembuatan dan penjualan briket yang telah ada sebelumnya masih belum optimal, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kuantitas yang dimaksud adalah masih adanya kelemahan-kelemahan pada produk sebelumnya misalnya jumlah asap yang dihasilkan masih terlalu banyak dan pengepressan manual sehingga kurang padat dan mudah hancur yang berakibat pada daya bakarnya menjadi tidak tahan lama. Dari segi kuantitas, hasil produksi masih dalam kategori kecil sehingga jangkauan pasarnya pun masih terbatas (Ahmad Fauzi, 2010).
Agar briket kulit durian terjamin kualitas dan kuantitasnya, pembuatan briket kulit durian harus dilakukan sesuai dengan prosedur. Selain itu, proses pengemasan briket kulit durian harus memperhatikan kondisi briket agar tidak rusak, misalnya dikemas dalam kotak  dalam keadaan tersusun rapat sehingga tidak ada celah yang memungkinkan pergerakan briket di dalam kotak. Pengemasan briket dengan kotak juga akan lebih menarik konsumen sebab terlihat lebih praktis, rapi dan mudah dibawa.
Untuk pemasaran briket kulit durian, penulis memberikan beberapa solusi agar pemasaran briket kulit durian dapat dilakukan secara optimal. Pertama, harga jual briket kulit durian yang dipasarkan disamakan dengan harga briket arang lainnya, tetapi di sisi lain keunggulan dari briket durian harus ditonjolkan dengan cara memberikan label disertai dengan keterangan tentang keunggulaan dari briket kulit durian. Harga briket kulit durian disamakan dengan harga briket arang lainnya dengan tujuan agar tidak terjadi persaingan harga.
Kedua, dengan mempromosikan keberadaan briket kulit durian kepada konsumen melalui media seperti melalui internet. Promosi melalui media diharapkan dapat membantu penyebaran promosi ke wilayah yang lebih luas sekaligus memperkenalkan produk kepada masyarakat dengan harapan promosi ini memberi pengetahuan baru kepada para pembaca bahwa kulit durian dapat diolah menjadi produk yang bernilai jual.
Ketiga, melakukan pemasaran langsung kepada pedagang yang menggunakan briket dengan tujuan untuk memperkenalkan briket kulit durian dan keunggulannya. Pemasaran langsung memiliki beberapa keunggulan, yaitu : aktivitas berbelanja konsumen cukup dilakukan di rumah atau ditempat kerja sehingga lebih menghemat waktu, nyaman, dan bebas dari pertengkaran (http://teddykw2.wordpress.com/2008/03/02/manfaat-pemasaran-langsung/).

 
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dapat disimpukan bawhwa kulit durian dapat diolah menjadi bahan bakar briket. Pengolahan ini melalui beberapa prosedur, yaitu pemotongan kulit durian, pembakaran, penyaringan, pencampuran dengan lem kanji, pencetakan dan yang terakhir penjemuran kembali.Keunggulan briket durian antara lain adalah tidak bersifat polutan, pemakaian nya relatif lama, kerapatan arangnya dapat ditingkatkan serta menimbulkan bau harum ketika digunakan sehingga cocok digunakan untuk industri makanan. Peluang usaha dari  briket kulit durian cukup besar karena mengingat harga bahan bakar seperti minyak tanah relative mahal. Proses pemasaran briket kulit durian melalui tiga tahapan, yaitu pengemasan briket yang siap jual dilakukan lebih menarik, pemasaran lewat media dan pemasaran secara langsung kepada konsumen.
5.2. Saran
Proses pencetakan briket kulit durian akan menghasilkan mutu yang lebih baik jika dicetak menggunakan alat cetakan, hal ini dikarenakan kerapatan briket akan lebih tinggi sehingga tidak mudah rusak dan daya bakarnya juga semakin awet.
Pada saat musim durian tiba, mari kita berdayakan produksi briket kulit durian ini. 










5 komentar:

  1. .daftar pustakanya dari mana aja mas ???

    BalasHapus
  2. daftar ppustakanya dari mana ajha..
    buat referensi mau riset ni...

    BalasHapus
  3. dapuse kq g da ya?

    BalasHapus
  4. ni daftar pustaka nya dari mna aja ya

    BalasHapus